GARUT, (NN).– Kondisi yang dialami Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 14 Garut, yang berlokasi di Jalan Raya Pasirwangi, Kabupaten Garut, sangat memprihatinkan. Akibat keterbatasan ruang kelas, pihak sekolah terpaksa menjadikan masjid dan mushola sebagai tempat belajar sementara bagi para siswa.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, jumlah siswa di SMKN 14 Garut mencapai 1.011 orang, sementara ruang kelas yang tersedia hanya 21 ruangan. Kondisi tersebut dinilai jauh dari ideal untuk menunjang proses belajar mengajar yang efektif.
Staf Kesiswaan SMKN 14 Garut, Maulana Yusuf, menjelaskan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana bahkan sempat memaksa pihak sekolah menerapkan sistem belajar dua shift pada tahun 2024.
“Dulu tahun 2024 kita sempat pakai sistem dua shift. Siswa shift pertama masuk pukul 07.00 pagi, sedangkan shift kedua mulai pukul 12.00 hingga 16.00. Tapi tidak bisa diteruskan karena angkutan umum di sini sudah tidak beroperasi pada sore hari,” ujar Maulana.
Ia menambahkan, saat ini sistem dua shift tidak lagi diterapkan karena siswa kelas XII sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Ruang kelas yang ditinggalkan sementara digunakan untuk kegiatan belajar siswa kelas lain.
“Sekarang siswa kelas XII sedang PKL, jadi ruangannya bisa dipakai oleh adik kelasnya. Tapi ke depan, kelas XI juga akan PKL sesuai aturan baru, jadi sistemnya nanti di-rolling,” jelasnya.
Meski demikian, Maulana mengakui bahwa keterbatasan ruang belajar masih menjadi masalah utama di sekolah tersebut. Beberapa ruang bengkel dan area praktik bahkan disulap menjadi kelas darurat.
“Meskipun ada yang PKL, ruang kelasnya tetap pas-pasan. Akhirnya, bengkel juga kita pakai buat belajar,” tambahnya.
Menurutnya, pihak sekolah telah berulang kali mengajukan permohonan pembangunan ruang kelas baru kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
“Kita sudah ajukan bantuan ke provinsi, tapi memang sampai sekarang belum terealisasi,” ujarnya.
Maulana juga mengingat pernyataan salah satu pejabat provinsi yang menyarankan agar sekolah tidak menerima siswa baru jika ruang kelas tidak mencukupi. Namun kebijakan itu sulit diterapkan karena masih banyak anak di sekitar Pasirwangi yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMK.
“Dulu Kang Dedi Mulyadi pernah bilang kalau kekurangan ruang kelas jangan menerima siswa baru. Tapi kalau kita tolak, bagaimana dengan anak-anak yang ingin sekolah? Mereka juga butuh pendidikan,” ucapnya dengan nada prihatin.
Sementara itu, Ketua Komite Sekolah, Aliyudin, membenarkan bahwa sebagian kegiatan belajar di SMKN 14 Garut memang terpaksa dilakukan di masjid dan mushola.
“Memang sangat memprihatinkan. Kami juga mendorong pihak sekolah, terutama kepala sekolah, untuk terus mengajukan permohonan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat agar segera mendapat perhatian,” ujarnya.
Aliyudin berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sekolah-sekolah di daerah pinggiran Garut.
“Kami ingin siswa yang lulus bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau bekerja di perusahaan besar. Tapi semua itu perlu dukungan fasilitas belajar yang layak,” pungkasnya. ***