KAB. BANDUNG, (NN).– Ratusan pesilat dari berbagai perguruan dan kalangan pelajar se-Jawa Barat ambil bagian dalam Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi IPSI Bojes GWP ke-10 Tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema "Satu Dekade Menjaga Tradisi, Menginspirasi Setiap Generasi" ini berlangsung meriah pada 3 Oktober 2026, bertempat di kawasan Sumbersari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.
Kejuaraan yang telah memasuki satu dekade penyelenggaraan ini menjadi momentum penting dalam melestarikan seni bela diri tradisional sekaligus membangun karakter generasi muda melalui olahraga dan budaya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI Komisi IX dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H. Asep Romy Romaya, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Bandung.
Kehadiran legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat II, meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, tersebut disambut antusias oleh panitia, para pendekar, peserta kejuaraan, serta masyarakat yang hadir.
Pantauan di lokasi, suasana kegiatan berlangsung semarak. Spanduk besar bertuliskan "Selamat Datang Peserta Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi IPSI Bojes GWP ke-10 Antar Perguruan/Pelajar se-Jawa Barat Tahun 2026" terpampang di area kegiatan, menegaskan semangat pelestarian budaya yang menjadi ruh penyelenggaraan kejuaraan tersebut.

Asep Romy Romaya: Pencak Silat Warisan Budaya yang Harus Dijaga
Dalam keterangannya, H. Asep Romy Romaya menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang selama sepuluh tahun konsisten menyelenggarakan Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi IPSI Bojes GWP.
Menurutnya, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, melainkan warisan budaya bangsa yang memiliki nilai luhur dan harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
"Pencak silat bukan hanya olahraga bela diri, tapi warisan budaya bangsa yang harus kita jaga. Seni tradisi ini adalah identitas kita. Saya sebagai wakil rakyat di Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan, juga sangat mendukung kegiatan positif anak muda seperti ini agar terhindar dari hal negatif dan menjaga kesehatan fisik dan mental," ujar Asep Romy Romaya.
Ia menilai kegiatan seperti Kejuaraan IPSI Bojes GWP ke-10 memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat, disiplin, berjiwa Pancasila, serta mampu meraih prestasi.
Baginya, pelestarian pencak silat harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan pembinaan, kompetisi, dan pengenalan seni tradisi kepada generasi muda.
Peserta dari Berbagai Daerah, Bahkan Jepang
Sementara itu, Ketua Panitia menyampaikan bahwa kejuaraan tahun ini diikuti ratusan peserta dari berbagai perguruan pencak silat dan kalangan pelajar di sejumlah daerah di Jawa Barat.
Antusiasme peserta terlihat dari luasnya jangkauan keikutsertaan. Bahkan, peserta terjauh berasal dari Bogor dan terdapat kejutan istimewa dengan kehadiran peserta dari Jepang.
Menurut panitia, kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi untuk menunjukkan kemampuan dan keterampilan para pesilat, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarp perguruan serta memperkuat persaudaraan di antara insan pencak silat.
"Kami berterima kasih atas kehadiran Kang Haji Asep Romy Romaya. Beliau selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, baik dalam kegiatan sosial, budaya, maupun kepemudaan," ungkap perwakilan panitia.
Satu Dekade Menjaga Tradisi, Melahirkan Generasi Berprestasi
Memasuki usia penyelenggaraan yang ke-10, Kejuaraan Pencak Silat Seni Tradisi IPSI Bojes GWP diharapkan semakin berkembang dan menjadi wadah pembinaan bagi para pesilat muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Lebih dari sekadar perebutan gelar juara, kegiatan ini menjadi bukti bahwa seni tradisi pencak silat tetap memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman.
Melalui semangat satu dekade menjaga tradisi dan menginspirasi setiap generasi, diharapkan lahir bibit-bibit pesilat berprestasi yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Bandung dan Jawa Barat di tingkat nasional maupun internasional.
Reporter: Ujang Pang