Denpasar, Bali (NN).- Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali menggelar pasar murah sebagai langkah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan pangan di tengah ancaman musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Kepala BI Bali Achris Sarwani mengatakan, upaya pengendalian inflasi dilakukan melalui intensifikasi gerakan pangan murah serta pemantauan harga secara berkala.
“Kami melakukan intensifikasi gerakan pangan murah dan pemantauan harga secara berkala,” ujar Achris di Denpasar, Rabu (2/9).
Menurutnya, BI terus mendorong keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, menjaga kelancaran distribusi, serta memperkuat komunikasi dan koordinasi lintas sektor agar inflasi tetap berada dalam sasaran.
Produk pertanian menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian utama karena fenomena El Nino berpotensi memengaruhi produksi pangan.
Selain menggelar pasar murah, BI dan TPID Bali juga mendorong distribusi pangan serta memperkuat kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan. Upaya lainnya dilakukan dengan memberikan dukungan sarana dan prasarana kepada kelompok tani serta meningkatkan koordinasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat.
Achris mengatakan, pengendalian inflasi juga perlu memperhatikan sejumlah risiko lain, termasuk potensi musim kemarau yang lebih panjang dan tingginya permintaan barang serta jasa selama periode puncak kunjungan wisatawan mancanegara yang diperkirakan berlangsung hingga September.
Tekanan terhadap harga juga dapat berasal dari masih tingginya biaya angkutan barang secara global yang berdampak pada harga barang impor.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan inflasi tahunan Bali pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,42 persen dan berada di atas inflasi nasional sebesar 3,19 persen.
Dengan capaian tersebut, inflasi Bali berada pada level yang perlu diwaspadai karena mendekati batas atas target inflasi daerah. Sasaran inflasi Bali berada pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Secara bulanan, kenaikan inflasi pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi meningkatnya harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, serta biaya sekolah dasar.
Namun, laju inflasi masih dapat diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, serta baju kaos tanpa kerah pria. ***