REGIONAL

55 Peserta Ikuti Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami di Garut

Foto AKI KONERON Pewarta | AKI KONERON • 02 October 2025
55 Peserta Ikuti Sekolah Lapang Gempa dan Tsunami di Garut

GARUT, (NN).-  Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, secara resmi membuka kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) dan Tsunami di Aula Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Rabu (1/10/2025). Kegiatan yang diselenggarakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini menjadi penanda dimulainya penguatan mitigasi serta budaya kesiapsiagaan di wilayah dengan potensi bencana tinggi.

Bupati Garut menegaskan, SLG merupakan langkah penting untuk mitigasi, peningkatan kesadaran, dan kepedulian masyarakat terhadap ancaman bencana. Ia mengingatkan, ketidaktahuan atau sikap abai dapat menimbulkan dampak besar.

“Garut termasuk daerah yang memiliki potensi gempa tektonik tinggi, juga vulkanologi. Menurut saya, ini adalah upaya mitigasi, agar masyarakat diajak untuk aware, peduli,” ujar Bupati.

Ia menambahkan, Pemkab Garut berkomitmen menyiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) kondisi darurat di setiap kegiatan.

“Itu untuk membiasakan diri agar selalu waspada. Jadi ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan satu dekade program SLG yang digelar BMKG di Jawa Barat sejak 2015.

Dengan mengusung tema “10 Tahun SLG, 10 Tahun Ngawangun Kesiapsiagaan Pikeun Salamet Tina Musibah Gempa Bumi Jeung Tsunami di Wewengkon Jawa Barat”, kegiatan ini menegaskan komitmen membina kesiapsiagaan demi keselamatan masyarakat dari bencana.

“Sejak 2015, BMKG konsisten menyelenggarakan SLG di Jawa Barat. Perjalanan 10 tahun yang luar biasa, sudah dilaksanakan 10 kali,” ujar Teguh.

Tahun ini, SLG di Garut diikuti oleh 55 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan.

Anggota Komisi V DPR RI, Ade Ginanjar, mengapresiasi konsistensi BMKG menyelenggarakan SLG. Menurutnya, kegiatan ini nyata meningkatkan kapasitas edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

“Kabupaten Garut merupakan daerah berisiko tinggi gempa bumi dan tsunami,” ucapnya.

Ia mengingatkan kembali peristiwa gempa Kertasari, Kabupaten Bandung (18 September 2024) yang getarannya terasa kuat di Garut, serta tsunami Pangandaran 2006 yang menelan ratusan korban jiwa termasuk di pesisir Garut selatan.

“Peristiwa ini adalah pelajaran pahit sekaligus peringatan bahwa kesiapsiagaan tidak bisa ditunda,” tegas Ade.

Ia menambahkan, gempa bermagnitudo 4,9 di Bekasi (20 Agustus 2025) menjadi bukti bahwa gempa bisa terjadi kapan saja, sehingga kesiapsiagaan harus dilakukan oleh semua lapisan masyarakat.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, juga menekankan bahwa Indonesia, termasuk Garut, merupakan wilayah rawan gempa bumi dan tsunami. Ia menyampaikan perkembangan positif sistem peringatan dini BMKG.

“Gempa kemarin berhasil kita deteksi 6 detik sebelum getarannya sampai di Garut. Itu kemajuan sistem peringatan dini,” ungkapnya.

Nelly juga berbagi pengalaman saat berkunjung ke SMPN 2 Tarogong Kaler, di mana simulasi kebencanaan disambut antusias guru dan siswa.

“Anak-anak adalah kelompok paling rentan terhadap bencana. Kalau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi saat belajar, itu berbahaya. Karena itu, mereka harus kita persiapkan,” tutupnya. (Diskominfo Kab. Garut)

Bagikan Berita Ini: