(Tokyo-Jepang) Koran Harian AS Washington Post, dalam edisinya Senin (08/03) silam, mengecam komentar dari Fujita Yukihisa, anggota Parlemen Jepang dari Partai Demokrat (Minshuto/DPJ), terkait serangan teroris yang dilontarkan terhadap AS pada tanggal 11 September 2001.
Dalam artikelnya, Washington Post menampilkan pandangan Fujita mengenai kejadian 9/11 itu, serta komentar Fujita yang menyatakan bahwa serangan teror tersebut merupakan sebuah konspirasi terhadap AS, dan bahwa sejumlah pihak yang terlibat dalam serangan itu hingga kini masih hidup.
Dalam artikelnya, Washington Post menampilkan pandangan Fujita mengenai kejadian 9/11 itu, serta komentar Fujita yang menyatakan bahwa serangan teror tersebut merupakan sebuah konspirasi terhadap AS, dan bahwa sejumlah pihak yang terlibat dalam serangan itu hingga kini masih hidup.
Washington Post mengecam komentar Fujita ini, dengan menyatakan bahwa pandangannya tersebut mencerminkan sikap "anti-Amerika" yang sepertinya dianut oleh DPJ dan juga pemerintahan Perdana Menteri Hatoyama Yukio.
Artikel itu menyebutkan, "Hubungan Jepang-AS akan terancam apabila Hatoyama membiarkan komentar-komentar seperti itu untuk disampaikan."
Selain itu, menurut Washington Post, kebijakan Hatoyama membuat sejumlah pihak mempertanyakan prinsip yang pernah disampaikannya, bahwa hubungan Jepang dengan AS tetap menjadi pondasi keamanan dalam negeri.
Menanggapi artikel di Washington Post itu, Fujita, yang menajabat sebagai Dirjen Departemen Internasional DPJ menuturkan, "Saya tidak pernah mengatakan bahwa serangan 9/11 merupakan konspirasi."
Sementara itu, dalam pernyataannya kepada media pada Selasa (09/03) silam, Hatoyama menjelaskan bahwa komentar yang sebelumnya dilontarkan oleh Fujita hanyalah pandangan seorang individu, dan bukan atas nama partainya, maupun pemerintah Jepang.
Dalam kesempatan yang sama, Fujita memaparkan, "Saya sangat menyayangkan artikel yang menyimpang seperti ini dapat dipublikasikan dalam Washington Post."
Selain kutipan komentarnya yang tidak benar, Fujita juga mengungkapkan terdapat sejumlah kesalahan lain yang ditampilkan oleh artikel dalam Washington Post itu, antara lain penulisan gelarnya.
Fujita (59 tahun) menambahkan, dirinya telah menyetujui wawancara dengan koran AS itu, dengan anggapan bahwa media tersebut akan memfokuskan laporannya mengenai masalah imigrasi di Jepang.
Menurutnya, komentar yang ia berikan mengenai serangan 9/11 hanyalah bagian dari perbincangan non-formal disela wawancara tersebut. (YA/KN)
Artikel itu menyebutkan, "Hubungan Jepang-AS akan terancam apabila Hatoyama membiarkan komentar-komentar seperti itu untuk disampaikan."
Selain itu, menurut Washington Post, kebijakan Hatoyama membuat sejumlah pihak mempertanyakan prinsip yang pernah disampaikannya, bahwa hubungan Jepang dengan AS tetap menjadi pondasi keamanan dalam negeri.
Menanggapi artikel di Washington Post itu, Fujita, yang menajabat sebagai Dirjen Departemen Internasional DPJ menuturkan, "Saya tidak pernah mengatakan bahwa serangan 9/11 merupakan konspirasi."
Sementara itu, dalam pernyataannya kepada media pada Selasa (09/03) silam, Hatoyama menjelaskan bahwa komentar yang sebelumnya dilontarkan oleh Fujita hanyalah pandangan seorang individu, dan bukan atas nama partainya, maupun pemerintah Jepang.
Dalam kesempatan yang sama, Fujita memaparkan, "Saya sangat menyayangkan artikel yang menyimpang seperti ini dapat dipublikasikan dalam Washington Post."
Selain kutipan komentarnya yang tidak benar, Fujita juga mengungkapkan terdapat sejumlah kesalahan lain yang ditampilkan oleh artikel dalam Washington Post itu, antara lain penulisan gelarnya.
Fujita (59 tahun) menambahkan, dirinya telah menyetujui wawancara dengan koran AS itu, dengan anggapan bahwa media tersebut akan memfokuskan laporannya mengenai masalah imigrasi di Jepang.
Menurutnya, komentar yang ia berikan mengenai serangan 9/11 hanyalah bagian dari perbincangan non-formal disela wawancara tersebut. (YA/KN)


