Home Berita Utama Ekonomi & Bisnis Sosial & Hiburan
Indeks Sorotan , Jakarta Shimbun English

Pemikiran Gus Dur Sangat Berarti, Tidak Hanya Untuk Bangsa Indonesia, Tapi Juga Untuk Umat Manusia

February 9, 2010 2:14 AM { kategori: }
(Jakarta-Indonesia) Hari Minggu (07/02) malam, Di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan diselenggarakan acara  Peringatan 40 hari wafatnya KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang dihadiri ribuan orang.

Salah satu yang hadir adalah Nakamura Mitsuo, Profesor Kehormatan dari Universitas Chiba Jepang dan juga peneliti mengenai Islam dan Indonesia, yang akrab dengan Gus Dur sejak akhir 1970-an.
Menurut Profesor Nakamura, ada perasaan kehilangan yang sangat besar, tidak hanya dari masyarakat di Indonesia, tapi juga dari seluruh dunia. Namun, hal ini akan menjadi tantangan besar bagi orang-orang yang ditinggalkannya.

"Sebagai manusia, walaupun orang besar, Gus Dur juga punya keterbatasan. Beliau pergi pada umur 69 tahun," ungkap Nakamura. "Tapi yang ditinggalkan olehnya adalah pemikiran untuk memajukan demokrasi, untuk melindungi minoritas, untuk menjaga kerukunan agama, dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat."

Lebih lanjut, Nakamura menjelaskan bahwa, pemikiran-pemikiran seperti itu, dapat diteruskan oleh semua orang, jadi walaupun merasa kehilangan, namun ini adalah saat yang tepat untuk  merenungkan pemikiran Gus Dur, dan mengembangkannya terus-menerus.

"Jadi ini boleh dikatakan, semacam rekayasa Tuhan," papar Nakamura. "Tuhan memberikan sebuah rekayasa bahwa orang-orangnya terbatas, tapi jangan kecewa, karena kalau pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan, yang ditunjukkan oleh Gus Dur diteruskan, akan ada harapan, adanya hari depan yang cerah."

"Setelah 40 hari, wafatnya Gus Dur, walaupun masih sedih, reaksi masyarakat di Indonesia dan luar negeri, menunjukkan bahwa pemikiran beliau sangat berarti, tidak hanya untuk bangsa Indonesia, tapi juga untuk umat manusia," ungkap Profesor Nakamura. (YD)

















■Hak cipta © Nusantara-News.■ Informasi Perusahaan Hubungi Kami Bantuan