(Osaka-Jepang) Sama seperti di Indonesia, mie instan di Jepang dipandang sebagai makanan yang praktis dimakan kapan saja dan dimana saja. Dilaporkan, sebanyak 3,2 milyar porsi mie instan dimasak setiap tahunnya di Jepang.
Namun menurut para ahli lingkungan hidup, popularitas mie instan ini memberi dampak buruk terhadap lingkungan, karena tingginya emisi karbondioksida yang dihasilkan dari proses pembuatan kemasannya.
Melihat kenyataan ini, Nissei Co, perusahaan pembuat cone es krim yang berkantor pusat di kota Ibaraki, Prefektur Osaka, terpikirkan untuk membuat kemasan mie yang tidak menghasilkan emisi karbondioksida, serta dapat hancur setelah terkubur dalam tanah.
Wada Tsuyoshi, Kepala Departemen Pengembangan Nissei Co memaparkan, "Kami mencoba membuat kemasan mie, menggunakan bahan dasar terbuat dari tumbuhan, sehingga tidak mengeluarkan emisi karbondioksida dalam proses pembuatannya."
Wada mengakui, perusahaannya sudah berupaya menciptakan kemasan yang ramah lingkungan sejak lebih dari 10 tahun yang lalu.
Awalnya, Nissei mencoba menciptakan kemasan terbuat dari tepung kanji, sehingga membuatnya tidak hanya ramah lingkungan, namun juga dapat dimakan.
Pada awal peluncurannya, kemasan ciptaan Nissei ini diterima dengan baik oleh masyarakat, dan bahkan digunakan pada acara Olimpiade Musim Dingin di Lillehammer, Norwegia pada tahun 1994.
Namun pada saat itu, masih ditemukan kekurangan pada kemasan Nissei, yakni bentuknya yang cenderung hancur apabila terkena cairan, sehingga tidak cocok untuk menampung makanan dengan kandungan air tinggi.
Setelah lebih dari 10 tahun, akhirnya Nissei berhasil menciptakan kemasan mie instan yang tidak hanya ramah lingkungan, namun ideal digunakan sebagai wadah makanan.
Pada tahun 2008, salah satu produsen mie instan di Jepang mulai menggunakan kemasan ramah lingkungan ciptaan Nissei, yang terbuat dari tepung kanji dan serat kayu.
Sejak peluncuran kemasan yang diberi nama "eco donburi" ini, dilaporkan produsen mie instan tersebut berhasil menjual sebanyak 300.000 unit dalam waktu enam bulan.
Menurut penjelasan Wada, kemasan ini memang memiliki lapisan terbuat dari bahan dasar minyak, untuk membuatnya lebih tahan air.
Namun, jumlah emisi karbon "eco donburi" tetap 70 persen lebih rendah dibandingkan dengan kemasan gabus.
Sebagai penghargaan terhadap manfaat yang diberikan kemasan ini terhadap lingkungan, pada tahun 2008 "eco donburi" berhasil meraih penghargaan "Chairperson's Award" dalam ajang Eco-Products Awards.
Namun Wada menambahkan, satu-satunya kekurangan dari "eco donburi" adalah harganya yang memang dua kali lebih mahal dibandingkan kemasan gabus. Karenanya, pihaknya terus meneliti cara agar dapat memproduksi kemasan ramah lingkungan ini secara massal, dengan harga yang rendah. (YA/YN)


