Pabrik pemrosesan makanan di Kota Eniwa Hokkaido, milik jaringan restoran Bikkuri Donkey Hamburger, beroperasi dengan menggunakan energi yang dihasilkan secara mandiri.
Aleph Inc, perusahaan pengelola Bikkuri Donkey yang berkantor di Hokkaido, menggunakan bahan bakar dari pelet kayu kombinasi, yang terbuat dari pohon yang tumbang dan sampah konstruksi di Hokkaido, dan biogas yang berasal dari sampah dapur sisa proses produksi dan memasak, untuk sumber bahan bakar pembangkit energi.
Saat ini, Aleph mengoperasikan 300 restoran di seluruh Jepang, dan pabrik di Eniwa memproduksi bumbu makanan yang akan digunakan di kurang lebih 40 restoran di Hokkaido.
Selain itu, sejak Februari 2007, saat pabrik mulai beroperasi, sejumlah orang mengunjungi pabrik Eniwa, untuk melihat pembangkit listrik yang menggunakan pelet kayu.
"Penggunaan bahan bakar ini, tidak hanya mengurangi emisi karbon dioksida, karena kalau harga bensin mencapai 80 yen per liter, maka biaya energi akan lebih rendah," ujar Shimanuki Hisao (53 tahun), manajer divisi bisnis lingkungan Bikkuri.
Pelet kayu yang digunakan pada pembangkit listrik ini, dibuat dengan mengkompres kulit kayu, sisa gergajian dan sisa remah kayu.
Karena pelet kayu dikompres, maka kandungan kalorinya lebih tinggi dibandingkan kepingan kayu biasa.
Menurut Asosiasi Pelet Kayu Jepang (JWPA), pada tahun 2007, telah diproduksi pelet kayu sebanyak 32,600 ton, sementara perkiraan untuk tahun 2008, sebanyak 60,000 ton.
Untuk penyimpanan pelet kayu, Bikkuri Donkey menaruhnya disebuah silo, bangunan penyimpan, dekat pabrik. dan setiap harinya, sekitar 500 kilogram pelet dibakar dalam ketel, dan energi panasnya digunakan untuk membuat saus masak dan produk lainnya.
Sementara biogas dihasilkan dari sampah dapur, seperti sisa-sisa sayuran dan sampah mentah lainnya. pabrik Eniwa menggunakan 500 kilogram sampah seperti ini setiap harinya.
Selanjutnya, sampah ini dikirim kepertanian yang lokasinya sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil dari pabrik.
Kemudian sampah ini dicampur dengan kotoran hewan dalam fasilitas yang memproduksi biogas.
Gas hasil produksi, lalu dikirim kembali ke pabrik.
Menurut petugas pabrik, penggunaan sampah dapur meningkatkan kandungan energi biogas sampai lima kali lipat dibandingkan biogas yang dihasilkan hanya dari kotoran ternak.
Dengan teknik ini, pabrik juga dapat menggunakan semua sampah mentahnya.
Hampir semua sisa sampah dapur dimanfaatkan secara maksimal di pabrik ini, bahkan traktor yang membawa samapah mentah ini ke pertanian, menggunakan bahan bakar biodiesel daur ulang yang berasal dari minyak goreng bekas dari restoran.
Melalui upaya ini, petugas pabrik menyatakan Bikkuri telah mengurangi setengah emisi karbon dioksidanya, dibandingkan bila pabrik menggunakan bensin atau minyak bakar.
Saat ini, Aleph mengoperasikan 300 restoran di seluruh Jepang, dan pabrik di Eniwa memproduksi bumbu makanan yang akan digunakan di kurang lebih 40 restoran di Hokkaido.
Selain itu, sejak Februari 2007, saat pabrik mulai beroperasi, sejumlah orang mengunjungi pabrik Eniwa, untuk melihat pembangkit listrik yang menggunakan pelet kayu.
"Penggunaan bahan bakar ini, tidak hanya mengurangi emisi karbon dioksida, karena kalau harga bensin mencapai 80 yen per liter, maka biaya energi akan lebih rendah," ujar Shimanuki Hisao (53 tahun), manajer divisi bisnis lingkungan Bikkuri.
Pelet kayu yang digunakan pada pembangkit listrik ini, dibuat dengan mengkompres kulit kayu, sisa gergajian dan sisa remah kayu.
Karena pelet kayu dikompres, maka kandungan kalorinya lebih tinggi dibandingkan kepingan kayu biasa.
Menurut Asosiasi Pelet Kayu Jepang (JWPA), pada tahun 2007, telah diproduksi pelet kayu sebanyak 32,600 ton, sementara perkiraan untuk tahun 2008, sebanyak 60,000 ton.
Untuk penyimpanan pelet kayu, Bikkuri Donkey menaruhnya disebuah silo, bangunan penyimpan, dekat pabrik. dan setiap harinya, sekitar 500 kilogram pelet dibakar dalam ketel, dan energi panasnya digunakan untuk membuat saus masak dan produk lainnya.
Sementara biogas dihasilkan dari sampah dapur, seperti sisa-sisa sayuran dan sampah mentah lainnya. pabrik Eniwa menggunakan 500 kilogram sampah seperti ini setiap harinya.
Selanjutnya, sampah ini dikirim kepertanian yang lokasinya sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil dari pabrik.
Kemudian sampah ini dicampur dengan kotoran hewan dalam fasilitas yang memproduksi biogas.
Gas hasil produksi, lalu dikirim kembali ke pabrik.
Menurut petugas pabrik, penggunaan sampah dapur meningkatkan kandungan energi biogas sampai lima kali lipat dibandingkan biogas yang dihasilkan hanya dari kotoran ternak.
Dengan teknik ini, pabrik juga dapat menggunakan semua sampah mentahnya.
Hampir semua sisa sampah dapur dimanfaatkan secara maksimal di pabrik ini, bahkan traktor yang membawa samapah mentah ini ke pertanian, menggunakan bahan bakar biodiesel daur ulang yang berasal dari minyak goreng bekas dari restoran.
Melalui upaya ini, petugas pabrik menyatakan Bikkuri telah mengurangi setengah emisi karbon dioksidanya, dibandingkan bila pabrik menggunakan bensin atau minyak bakar.


