Home Berita Utama Ekonomi & Bisnis Sosial & Hiburan
Indeks Sorotan , Jakarta Shimbun English

Gubernur Bank of Japan: Resiko Sampingan Terhadap Ekonomi Jepang Telah Surut

November 5, 2009 12:20 AM { kategori: }
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Masaaki Shirakawa Rabu (4/11) menyatakan resiko sampingan bagi ekonomi Jepang telah surut, dibandingkan dengan situasi pada musim semi silam, selain itu ekonomi Jepang tampaknya juga akan naik, yang didukung oleh pertumbuhan negara-negara berkembang.
"Dengan meningkatnya pertumbuhan negara berkembang dan negara pengekspor komoditas, resiko semakin seimbang, dibandingkan dengan situasi awal musim semi," ujar Gubernur Shirakawa.

Menurut Shirakawa, ekonomi Jepang saat ini sedang menghadapi resiko sampingan seperti memudarnya pengaruh paket stimulus ekonomi, sedikitnya lapangan kerja dan turunnya jumlah penghasilan, serta lambatnya laju pemulihan ekonomi global.

Namun resiko sampingan seperti itu dapat diminimalisir dengan diberlanjutkannya tingkat pertumbuhan yang tinggi negara-negara berkembang dan kaya sumber daya.

"Hal yang paling mengkhawatirkan saya ialah kemungkinan konsekuensi dari penyesuaian neraca di Amerika Serikat dan Eropa, serta pertumbuhan di negara berkembang dan pengekspor komoditas." ujarnya.

Meskipun terlihat terlalu optimis, namun Shirakawa kembali menegaskan niat BoJ untuk mendukung ekonomi Jepang dengan mengendurkan kebijakan moneter.

"BoJ akan mendukung ekonomi Jepang supaya dapat kembali ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan, yanga kan dilakukan dengan mengakomodasi iklim keuangan secara ekstrim," papar Shirakawa.

Dalam laporan "Outlook for Economic Activity and Prices" yang diterbitkan Jumat (30/10), BoJ memproyeksikan produk domestik bruto Jepang pada tahun fiskal 2009 menyusut 3,2 persen. Namun, PDB diharapkan akan meningkat dalam dua tahun kedepan dengan laju 1,2 persen pada tahun fiskal 2010 dan 2,1 persen pada tahun fiskal 2011.

Dalam laporan, BoJ juga memproyeksikan Jepang akan mengalami tiga tahun deflasi.

Selain itu, BoJ juga memproyeksikan harga konsumen inti Jepang, tidak termasuk makanan segar, turun 1,5 persen pada tahun fiskal 2009 dibandingkan tahun 2008, 0,8 persen pada tahun fiskal 2010 dan 0,4 persen pada tahun fiskal 2011.

ShirakawaMasaaki.JPG
















■Hak cipta © Nusantara-News.■ Informasi Perusahaan Hubungi Kami Bantuan