Pemutaran Film Dokumenter "Mas Endang"
Jejak hidup seorang pekerja magang asal Cirebon, yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dua siswi SMP yang terseret ombak di pantai Miyazaki, Jepang pada tahun 2007, yang dikemas dalam sebuah film dokumenter berjudul "Mas Endang", akan diputar di auditorium Japan Foundation Jakarta pada Minggu (4/10) pukul 18.30.
Jejak hidup seorang pekerja magang asal Cirebon, yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dua siswi SMP yang terseret ombak di pantai Miyazaki, Jepang pada tahun 2007, yang dikemas dalam sebuah film dokumenter berjudul "Mas Endang", akan diputar di auditorium Japan Foundation Jakarta pada Minggu (4/10) pukul 18.30.
Kisah tragis sang penyelamat siswi Jepang, Endang Aripin (21), digarap oleh Inoue Miyuki, yang pada tahun 2006-2008 bertugas sebagai guru SD di Sekolah Jepang Bandung, bersama Murasawa Takahiro, alumni Universitas Padjadjaran.
Awalnya, Inoue mendapat informasi tentang tewasnya Endang Arifin dari berita Jakarta Shimbun. Selanjutnya, guru SD ini tergerak untuk tidak membiarkan kisah ini terlupakan begitu saja.
Dalam film tersebut diceritakan, dengan biaya sendiri, Inoue akhirnya mengambil keputusan untuk membuat film dokumenter. Ia pergi ke Cirebon, kampung halaman Endang, menemui keluarga, pacar dan guru sekolahnya. Lalu, ia terbang ke Miyazaki, untuk mewawancarai beberapa warga Jepang, seperti pemilik kapal nelayan yang merupakan atasan tempat Endang bekerja, hingga anggota satuan penjaga pantai yang mencari Endang saat ditelan ombak ganas.
Film ini dihiasi musik instrumental piano, seperti Indonesia Pusaka dan Tanah Airku, yang dimainkan oleh Inoue sendiri.
Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini, sejak pemutaran pertama kali pada awal 2008 di Jakarta hingga kini, telah ditayangkan di sekitar 45 tempat, baik di Indonesia maupun di Jepang.
Karena disambut hangat oleh masyarakat Jepang, sampai saat ini masih sering diselenggarakan acara pemutaran film di berbagai daerah. Di Indonesia, keluarga Endang pernah diundang dalam acara Kick Andy, Metro TV.
Diana Nugroho, Program Officer Japan Foundation Jakarta menyatakan, melalui film ini, diharapkan masyarakat Indonesia dan Jepang bisa melihat secara visual bahwa persahabatan bisa dijalin tanpa memandang bangsa, agama dan ras, juga bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja.
Awalnya, Inoue mendapat informasi tentang tewasnya Endang Arifin dari berita Jakarta Shimbun. Selanjutnya, guru SD ini tergerak untuk tidak membiarkan kisah ini terlupakan begitu saja.
Dalam film tersebut diceritakan, dengan biaya sendiri, Inoue akhirnya mengambil keputusan untuk membuat film dokumenter. Ia pergi ke Cirebon, kampung halaman Endang, menemui keluarga, pacar dan guru sekolahnya. Lalu, ia terbang ke Miyazaki, untuk mewawancarai beberapa warga Jepang, seperti pemilik kapal nelayan yang merupakan atasan tempat Endang bekerja, hingga anggota satuan penjaga pantai yang mencari Endang saat ditelan ombak ganas.
Film ini dihiasi musik instrumental piano, seperti Indonesia Pusaka dan Tanah Airku, yang dimainkan oleh Inoue sendiri.
Film berdurasi sekitar satu setengah jam ini, sejak pemutaran pertama kali pada awal 2008 di Jakarta hingga kini, telah ditayangkan di sekitar 45 tempat, baik di Indonesia maupun di Jepang.
Karena disambut hangat oleh masyarakat Jepang, sampai saat ini masih sering diselenggarakan acara pemutaran film di berbagai daerah. Di Indonesia, keluarga Endang pernah diundang dalam acara Kick Andy, Metro TV.
Diana Nugroho, Program Officer Japan Foundation Jakarta menyatakan, melalui film ini, diharapkan masyarakat Indonesia dan Jepang bisa melihat secara visual bahwa persahabatan bisa dijalin tanpa memandang bangsa, agama dan ras, juga bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja.


