Home Berita Utama Ekonomi & Bisnis Sosial & Hiburan
Indeks Sorotan , Jakarta Shimbun English

Penurunan harga Bahan Bakar di Jepang menciptakan Spekulasi Deflasi

June 28, 2009 3:52 AM { kategori: }

Deflasi kini mulai kembali merebak di Jepang, dan hal ini bukanlah hal yang baik bagi sebuah ekonomi yang tengah memulihkan diri dari resesi terburuk sejak Perang Dunia II.

Indeks harga konsumen kunci Jepang menurun drastis pada bulan Mei, ujar pemerintah Jepang pada hari Jumat kemarin. Indeks harga konsumen inti nasional, tidak termasuk harga bahan pokok dasar, jatuh sebanyak 1.1 persen dari tahun sebelumnya pada bulan ketiga penurunan harga.

Hasil penurunan harga tersebut merupakan penurunan harga terbesar sejak pemerintah mulai mengeluarkan data perbandingan pada tahun 1971.

Sepertinya Jepang mulai "kembali menuju periode deflasi yang panjang," ujar Richard Jerram, ahli ekonomi utama dari Macquarie Securities di Tokyo.

Penurunan harga dapat dianggap sebagai hal yang baik, namun deflasi dapat menghambat pertumbuhan dan dapat menyebabkan para konsumen untuk menunda pembelian, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan produksi serta gaji.

Penurunan harga sepertinya akan terus berlangsung dan dapat menimbulkan masalah bagi berbagai perusahaan dan individu karena 'interest rate' akan menjadi terlalu tinggi bagi kondisi ekonomi yang sedang pulih," jelas Jerram dalam sebuah catatan untuk klien.

Jepang telah mengalami deflasi yang mengguncang pada tahun 1990-an, dan terjadi kembali pada awal dekade ini, ketika ekonomi terbesar kedua di dunia tengah berusaha memulihkan diri dari krisis perbankan dan properti.

Menteri keuangan Jepang, Kaoru Yosano mengekspresikan keprihatinannya terhadap penurunan besar pada permintaan.

"Kami terus mengawasi perubahan harga, dan perlu secara hati-hati mengimplementasikan manajemen ekonomi untuk dapat menghindari sebuah spiral deflasi," ujar Yosano dalam sebuah konferensi pers, menurut agensi berita Kyodo.

Dengan penurunan drastis harga minyak dari tahun sebelumnya, harga energi dan transportasi juga turut menurun secara drastis pada bulan Mei kemarin.

Para analis menunjuk pada penurunan 0.5 persen dari yang disebut "core-core CPI," yang tidak termasuk makanan dan energi, sebagai sebuah tanda dari kelemahan pada harga-harga dasar.

Indeks harga konsumen inti untuk Tokyo menurun 1.3 persen pada bulan Juni. Hal ini merupakan pertanda bagi berlanjutnya penurunan harga secara nasional.

"Hal ini konsisten dengan pemberitaan di media bahwa supermarket-supermarket besar telah menurunkan harganya seiring dengan rumah-rumah tangga yang kini menjadi defensif sebagai pengaruh dari kondisi pekerjaan dan pemasukan yang menurun," jelas Kyohei Morita, ahli ekonomi utama dari Barclays Capital di Tokyo.

Bank utama Jepang memprediksikan bahwa harga akan terus menurun selama kurang lebih dua tahun kedepan. Dalam penelitian ekonominya yang terakhir pada bulan Mei, mereka memprediksikan bahwa indeks harga konsumen inti akan menurun sebanyak 1.5 persen pada tahun ini, yang akan berakhir pada bulan Maret 2010, dan akan menurun kembali sebanyak 1 persen pada tahun berikutnya.
















■Hak cipta © Nusantara-News.■ Informasi Perusahaan Hubungi Kami Bantuan